Ini sebuah kisah yg terjadi sekitar satu tahun yg lalu. Mengutip dari film 500 Days of Summer ‘This is not a love story. This is a story about love’. Ya, bukan cerita cinta. Hanya sebuah cerita yg menghadirkan cinta didalamnya. Sebetulnya hal ini mungkin tidak akan diperhatikan. Kisah ini pun tidak memiliki happy ending maupun sad ending. Berakhir begitu saja tanpa jelas bagaimana.
Kisah ini terjadi di suatu tempat. Di satu tempat. Ya, hanya di satu tempat, tempat itu saja. Sebuah tangga Taman Kanak-Kanak depan perumahanku. Mungkin juga perumahannya. Dan sepertinya memang begitu. Karena tidak mungkin dia berada disana jika tidak tinggal di perumahan ini. Tempat itu memang tempat para anak sekolah menunggu dijemput orang tua nya. Dari mulai SD sampai SMA. Bahkan ada juga ibu-ibu yg pulang dari pasar menunggu dijemput suami atau anaknya disitu. Jadi, itu bukan tempat yg spesial. Setidaknya buat orang lain. Berbeda denganku yg mengganggap tempat itu bukan sekedar tempat biasa.
Awalnya tempat itu ya layaknya pandangan orang lain, hanya sebuah tangga tempat menunggu dijemput. Aku pun tidak pernah menyadari kehadirannya. Kehadiran seseorang yg ternyata dikemudian hari mampu memengaruhi hatiku untuk melihat padanya. Aku ingat awal aku memandang kearahnya. Waktu itu dia dijemput duluan. Oleh seorang gadis. Adiknya mungkin. Yg jelas terlihat cewe itu lebih muda. Ah ya, dia pake celana seragam olah raga SMP. Jelas lebih muda. Tanpa sadar aku memerhatikan mereka. Niatnya merhatiin adiknya yg terlihat sibuk sama motornya. Dan pas sadar, dia membisikkan sesuatu ke adiknya sambil melirik kearahku, adiknya pun ikut melirik. Dan aku sadar aku kepergok. Waktu itu bener-bener malu banget. Aku bener-bener berharap ga akan pernah ketemu dia lagi. Tapi yg terjadi justru sebaliknya. Aku makin sering pas-pasan nunggu dijemput bareng dia. Ya logisnya sih wajarlah. Kita kan sama-sama SMA, di negeri, hal yg wajar kalau jam pulangnya sama.
Semakin kesini aku semakin menggap kehadirannya istimewa. Tanpa sadar aku selalu menunggu saat pulang sekolah, ketika bel selalu terburu-buru ingin pulang. Tanpa sadar aku selalu menunggu kehadirannya dengan gelisah saat sudah tiba di tangga. Tanpa sadar ketika melihatnya datang atau melihatnya terlebih dahulu sampai aku berusaha menahan senyum. Semua terjadi hanya begitu saja.
Duduk bersebelahan walau beda 2 atau 3 tangga. Kalau dia terlebih dahulu disana, biasanya aku memilih tangga lebih atas. Supaya ga perlu lirik kebelakang hihihi. Kadang aku dan dia benar-benar bersebelahan, ada jarak tentunya. Tak jarang aku melirik dan kepergok atau dia melirik dan kepergok. Hanya seperti itu. Tak lebih. Bahkan salah satu antara aku dan dia tidak memiliki inisiatif untuk mengajak kenalan duluan. Untuk apa? Apa mengenalnya penting? Aku justru takut setelah aku mengenalnya segalanya akan berubah, tidak sesuai harapan. Aku hanya ingin satu hal, tau namanya.
Entahlah, akupun tidak mengerti. Aku tidak mengenal. Tidak tahu nama. Tidak pernah berbincang. Tapi cinta itu bisa tumbuh. Tanpa memberikan kesempatan untuk melawannya, untuk menahannya. Mungkin, itulah hebatnya cinta. Ia bisa datang dengan ketidak tahuan.
Hingga suatu hari dia tak pernah muncul lagi. Lama aku menunggu disana baru minta jemput. Sebelumnya pernah aku melakukan hal itu juga, dan setelah dia datang baru aku mengabari orang rumah untuk menjemputku. Hanya ingin melihatnya. Dan itu sudah lebih dari cukup. Tapi mulai saat itu dia benar-benar tak pernah datang lagi. Akhirnya aku pun berhenti menunggu. Menunggu untuk sesuatu yang semu. Menunggu sesuatu yang sia-sia. Menunggu cinta yg hanya sempat mampir. Cinta yg datang hanya untuk numpang lewat. Sebuah cinta yg sebenarnya tidak pernah datang.
Dan mulai saat itu aku benar-benar tidak menunggu lagi. Karena aku menemukan jawabannya. Ternyata sekarang dia membawa motor jika sekolah, jelas dia tidak akan menunggu dijemput. Mungkin seperti itulah. Ternyata cinta itu pergi karna telah menemukan cara jalan pulang yang lain. Aku pun mulai mencari jalan pulang lain. Kali ini dengan cara berjalan kaki. Lelah memang. Tapi aku sadar beginilah sebaiknya, cara inilah yg lebih baik. Tidak perlu menunggu, hanya berjalan terus. Biarkan sesuatu yg harusnya datang, datang begitu saja. Biarkan ada cara jalan pulang dengan tanpa menunggu. Cara jalan pulang yg nantinya akan ditemukan saat kita berjalan terus melangkahkan kaki. Dan ketika ternyata kita tiba dirumah benar-benar hanya dengan berjalan kaki. Mungkin saat itu, belum waktu yg tepat untuk kita menemukan cara jalan pulang yang lain.
Cerita yang memang bukan tentang happiness, tapi setidaknya juga bukan tentang sadness. Tentu hal itu banyak memberikanku pelajaran. Dan mengadirkan memori indah yang membuatku tersenym tiap kali melihat atau mampir di tangga itu. Ya, kadang aku mampir di tangga itu. Menunggu dijemput tentunya. Ketika aku lelah berjalan kaki. Hanya untuk istirahat, hanya karena aku lelah. Bukan lagi untuk menunggu sesuatu yg lebih baik akan datang dengan berjalannya waktu.
Kisah ini terjadi di suatu tempat. Di satu tempat. Ya, hanya di satu tempat, tempat itu saja. Sebuah tangga Taman Kanak-Kanak depan perumahanku. Mungkin juga perumahannya. Dan sepertinya memang begitu. Karena tidak mungkin dia berada disana jika tidak tinggal di perumahan ini. Tempat itu memang tempat para anak sekolah menunggu dijemput orang tua nya. Dari mulai SD sampai SMA. Bahkan ada juga ibu-ibu yg pulang dari pasar menunggu dijemput suami atau anaknya disitu. Jadi, itu bukan tempat yg spesial. Setidaknya buat orang lain. Berbeda denganku yg mengganggap tempat itu bukan sekedar tempat biasa.
Awalnya tempat itu ya layaknya pandangan orang lain, hanya sebuah tangga tempat menunggu dijemput. Aku pun tidak pernah menyadari kehadirannya. Kehadiran seseorang yg ternyata dikemudian hari mampu memengaruhi hatiku untuk melihat padanya. Aku ingat awal aku memandang kearahnya. Waktu itu dia dijemput duluan. Oleh seorang gadis. Adiknya mungkin. Yg jelas terlihat cewe itu lebih muda. Ah ya, dia pake celana seragam olah raga SMP. Jelas lebih muda. Tanpa sadar aku memerhatikan mereka. Niatnya merhatiin adiknya yg terlihat sibuk sama motornya. Dan pas sadar, dia membisikkan sesuatu ke adiknya sambil melirik kearahku, adiknya pun ikut melirik. Dan aku sadar aku kepergok. Waktu itu bener-bener malu banget. Aku bener-bener berharap ga akan pernah ketemu dia lagi. Tapi yg terjadi justru sebaliknya. Aku makin sering pas-pasan nunggu dijemput bareng dia. Ya logisnya sih wajarlah. Kita kan sama-sama SMA, di negeri, hal yg wajar kalau jam pulangnya sama.
Semakin kesini aku semakin menggap kehadirannya istimewa. Tanpa sadar aku selalu menunggu saat pulang sekolah, ketika bel selalu terburu-buru ingin pulang. Tanpa sadar aku selalu menunggu kehadirannya dengan gelisah saat sudah tiba di tangga. Tanpa sadar ketika melihatnya datang atau melihatnya terlebih dahulu sampai aku berusaha menahan senyum. Semua terjadi hanya begitu saja.
Duduk bersebelahan walau beda 2 atau 3 tangga. Kalau dia terlebih dahulu disana, biasanya aku memilih tangga lebih atas. Supaya ga perlu lirik kebelakang hihihi. Kadang aku dan dia benar-benar bersebelahan, ada jarak tentunya. Tak jarang aku melirik dan kepergok atau dia melirik dan kepergok. Hanya seperti itu. Tak lebih. Bahkan salah satu antara aku dan dia tidak memiliki inisiatif untuk mengajak kenalan duluan. Untuk apa? Apa mengenalnya penting? Aku justru takut setelah aku mengenalnya segalanya akan berubah, tidak sesuai harapan. Aku hanya ingin satu hal, tau namanya.
Entahlah, akupun tidak mengerti. Aku tidak mengenal. Tidak tahu nama. Tidak pernah berbincang. Tapi cinta itu bisa tumbuh. Tanpa memberikan kesempatan untuk melawannya, untuk menahannya. Mungkin, itulah hebatnya cinta. Ia bisa datang dengan ketidak tahuan.
Hingga suatu hari dia tak pernah muncul lagi. Lama aku menunggu disana baru minta jemput. Sebelumnya pernah aku melakukan hal itu juga, dan setelah dia datang baru aku mengabari orang rumah untuk menjemputku. Hanya ingin melihatnya. Dan itu sudah lebih dari cukup. Tapi mulai saat itu dia benar-benar tak pernah datang lagi. Akhirnya aku pun berhenti menunggu. Menunggu untuk sesuatu yang semu. Menunggu sesuatu yang sia-sia. Menunggu cinta yg hanya sempat mampir. Cinta yg datang hanya untuk numpang lewat. Sebuah cinta yg sebenarnya tidak pernah datang.
Dan mulai saat itu aku benar-benar tidak menunggu lagi. Karena aku menemukan jawabannya. Ternyata sekarang dia membawa motor jika sekolah, jelas dia tidak akan menunggu dijemput. Mungkin seperti itulah. Ternyata cinta itu pergi karna telah menemukan cara jalan pulang yang lain. Aku pun mulai mencari jalan pulang lain. Kali ini dengan cara berjalan kaki. Lelah memang. Tapi aku sadar beginilah sebaiknya, cara inilah yg lebih baik. Tidak perlu menunggu, hanya berjalan terus. Biarkan sesuatu yg harusnya datang, datang begitu saja. Biarkan ada cara jalan pulang dengan tanpa menunggu. Cara jalan pulang yg nantinya akan ditemukan saat kita berjalan terus melangkahkan kaki. Dan ketika ternyata kita tiba dirumah benar-benar hanya dengan berjalan kaki. Mungkin saat itu, belum waktu yg tepat untuk kita menemukan cara jalan pulang yang lain.
Cerita yang memang bukan tentang happiness, tapi setidaknya juga bukan tentang sadness. Tentu hal itu banyak memberikanku pelajaran. Dan mengadirkan memori indah yang membuatku tersenym tiap kali melihat atau mampir di tangga itu. Ya, kadang aku mampir di tangga itu. Menunggu dijemput tentunya. Ketika aku lelah berjalan kaki. Hanya untuk istirahat, hanya karena aku lelah. Bukan lagi untuk menunggu sesuatu yg lebih baik akan datang dengan berjalannya waktu.